Minggu, 15 April 2018
MENGENAL R .M MARGONO DJOJOHADIKUSUMO
MENGENAL MAKNA SASTRAJENDRA
Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Dhiyu
Sesanti ini merupakan sebuah kalimat yang berasal dari bahasa jawa yang berarti sebagai berikut:
Sastra bermakna tulisan
Jendra / Hendra bermakna hati / raja
Hayu bermakna baik / indah
Rat bermakna darah / getih
Pangruwating berasal dari kata ruwat yang bermakna / merawat/ memperbaiki
Dhiyu yang bermakna Buta / raksasa
Karena manusia yang diberi akal dan pikiran, sehingga ujud seorang Muhammad pun adalah manusia, bukan malaikat.
Sabtu, 10 Juni 2017
SERAT KALATIDA
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda
MAKNANYA
Keadaan negara waktu sekarang,
sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah,
karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.
BEDO REJEKINE
Senin, 23 Mei 2016
SABDA RAJA NYAYOGYAKARTA
Cucu dari HB VIII, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jatiningrat yang menjabat sebagai Pengageng Tepas Dworo Puro (semacam Humas) Kraton mengungkap perjanjian Sri Sultan HB X sebelum jumenengan (naik takhta).
Menurut KRT Jatiningrat, ada lima perjanjian Sultan kepada HB IX sesaat sebelum diangkat menjadi Sultan HB X. Adapun Perjanjian tersebut,
Kedua; untuk tetap merengkuh orang lain biar pun orang lain tersebut tidak senang.
Ketiga, untuk tidak melanggar paugeran negara;
Keempat; untuk lebih berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
Kelima; untuk tidak tidak punya ambisi apapun selain untuk menyejahterakan rakyat.
“Janji ini diucapkan Sultan sebelum jumenengan kepada almarhum HB IX,” kata KRT Jatiningrat.
Ia mengartikan inti dari Sabda Raja itu tidak lain adalah keinginan Sultan mengangkat Gusti Kanjeng Ratu Pembayun menjadi putri mahkota.
Sultan mengeluarkan Sabda Raja pada Kamis (30/4). Inti dari Sabda Raja itu adalah mengubah gelar. Kemudian pada Selasa (5/5) Mei, Sultan mengeluarkan Dawuh Raja yang intinya mengganti gelar putri sulungnya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.
Namun kerabat Kraton tidak sepakat dengan keputusan Sultan tersebut. Bahkan adik-adik Sultan menolak isi dari Sabda Raja tersebut karena menganggap sudah keluar dari Paugeran Kraton.
Keutuhan Keraton
Romo Tirun mengaku perbedaan pandangan antara Sultan dan para pangeran (Adik-adik Sultan) akan mempengaruhi keutuhan Kraton. Namun Romo Tirun merasa tidak berhak mencampuri urusan keluarga besar HB IX.
Romo Tirun berharap, polemik yang terjadi di internal Kraton tidak sampai mengganggu lembaga Kraton.
Ia mengakui abdi dalem bertanya-tanya soal polemik tersebut, namun ia menekankan abdi dalem harus kembali pada pengabdian untuk lembaga Kraton dan menjaga kebudayaan para leluhur.
“Mohon maaf, abdi dalem bukan pakune Sultan, tapi abdi negara, hanya mengabdi pada lembaga tinggalane leluhur".
Soal perbedaan pandangan di antara Sultan dan para pangeran (Rayi Dalem), Romo Tirun mempersilahkan untuk diselesaikan dengan baik-baik. “Semua punya tanggung jawab dan ada risikonya masing-masing,” ujarnya.
Meski sudah ada perubahan gelar dawi Buwono menjadi Bawono, sampai saat ini semua proses administrasi di Kraton masih menggunakan nama Sri Sultan Hamengku Buwono. (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 21 Mei 2016
MAKNA SABAR DAN MENGELUH
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini." Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?" Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua." Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,: " Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya." Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: " Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang." Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
Selasa, 17 Mei 2016
ARTI MAKNA SEMBAYANG DAN SOLAT
"Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (bahkan) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan (ingatlah!) kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
Jumat, 29 Januari 2016
Filosofi Semar yang Mengagumkan
Filosofi Semar yang Mengagumkan
Filosofi Semar yang Mengagumkan
Senin, 07 Desember 2015
Hidup Untuk Memberi
Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi.
Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? ?kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau???, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, ?boleh kakak bertanya? ? silahkan kak, kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?, oh? itu bungkusan nasi dan sedikit lauk
... baca selengkapnya di Hidup Untuk Memberi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Rabu, 02 Desember 2015
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
KEDAI MINUMAN itu penuh dengan para pengunjung yang ingin menikmati bandrek, pisang rebus dan kacang goreng. Sehabis hujan memang sedap sekali duduk menikmati bandrek hangat sambil mengobrol dan menghisap rokok, (bandrek" minuman manis bercampur jahe, biasanya diminum hangat-hangat).
Tetamu yang ada dalam kedai itu rata-rata bertampang sangar dan kebanyakan membekal golok. Pertanda bahwa mereka adalah orang-orang kasar.
Seorang pemuda muncul di pintu kedai. Pakaiannya basah kuyup. Dia memakai ikat kepala putih dan rambutnya yang gondrong basah acak-acakan.
"Saya mencari Memed Gendut. Apakah orangnya ada di sini?" pemuda itu bertanya.
Orang-orang yang ada di dalam kedai itu berpaling ke pintu. Sesaat mereka memandang si pemuda lalu meneruskan obrolan mereka, menghisap rokok atau meneguk bandrek. Tak ada yang menjawab.Semua seperti tak acuh. Seolah-olah pemuda itu tak ada disana.
Orang yang bertanya garuk-garuk kepalanya. Terdengar suaranya perlahan, tetapi cukup je!as terdengar oleh semua pengunjung kedai ketika dia berkata,"Aku yakin tidak semua orang yang ada di sini bisu. Tapi mengapa
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
SIMBOL TRAH SANPAIDI
MAKNA HO-NO-CA-RO-KO
HA : hurip : hidup
NA : legeno : telanjang
CA : cipta : pemikiran, ide ataupun kreatifitas
RA : rasa : perasaan, qolbu, suara hati atau hati nurani
KA : karya : bekerja atau pekerjaan atau di lahirkan.
Manusia ” dihidupkan ” dalam keadaan telanjang akan tetapi manusia memiliki cipta rasa karsa, otak yang mengkreasi cipta’, hati yang mempunyai fungsi kontrol ( dalam bentuk rasa ) serta raga / tubuh / badan yang bertindak sebagai pelaksana.
DA : dada
TA : tata : atur
WA; Weruh
SA : saka : tiang penyangga
LA : lakuning : ( makna ) kehidupan, urip.
Dengarkanlah suara hati nurani yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga ( saka ) sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
PADHAJAYANYA : sama kuat pada dasarnya / awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama ( kuat ), yaitu potensi melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan.
MA : sukma : ruh, nyawa
GA : raga : badan, jasmani
BA-THA : bathang, mayat
NGA : lunga, pergi
meskipun dengan kehebatan cipta, rasa, karsa, entah kita baik atau jahat akhirnya ruh / nyawa pasti suatu saat akan kembali ke penciptanya; sehinga manusia harus bisa mempersiapkan diri.
Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran.
Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada.
Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak (dapat) diuraikan dengan jelas(mempergunakan kata-kata). Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang.
Rasakanlah eratnya dengan badanmu.
Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan.
Jika tidak waspada (kau) akan menjadi sesat.
Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat.
Isyarat yang sampai dapat dirasakan.
Lihatlah dengan seksama (sifat) batin sesungguhnya yang anda bawa.
Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian.
Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan.
Pada dasarnya berbeda dengan (orang) yang telah tak terpengaruh oleh godaan.
Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa.
Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian.
Nyata (bahwa) sunyi senyap (segala) jejak keduniawian.
Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu.
Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”.
Kembali mengatur menguasai (segi) luar dan dalam.
Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan.
“Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”.
“Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra (syariat) dan bunyi gending (Manipat). Jika telah disepakati (bersama), meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.”
“Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang : Ha na ca ra ka : pituduhipun, dene kang : da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”.
“Seperti halnya sastra (aksara jawa) yang dua puluh (adalah) sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh (atau hidup); memberikan (mirit) ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada (kepada Tuhan) yang dipuji”.
“Wadat jati kang rinasan, ponang: pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang : ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir”
“Wadat jati yang dirasakan berupa: pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya (adalah) mendukung dan akhadiyat, sedang: ma ga ba ta nga (berarti) sudah menjadi nyata (keadaan) sir yang sejati?’.
“Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”.
“Tanda (daripada) Manikmaya (terlihat) juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya (suwung) (yaitu) bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”.
“Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”.
“Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya (dengan) melebur ke dalam rasa penglihatan, (bersifat) tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”.
“Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”.
“Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan (juga) mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada (ada) terurai dalam kata-kata (yang) menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”..
Sejatinya, jati diri semua manusia pada dasarnya adalah sama. Ya cuma kelihatannya saja berbeda-beda.
Jati dirinnya manusia tumrap orang Jawa yaitu:
Do To So Wo Lo.
Po Dho Jo Yo Nyo.
Mo Go Bo Tho Ngo.
1. Makna Ho No Co Ro Ko.
Arti bahasa Jawa adalah Ono Utusan.
Arti dalam bahasa Indonesia adalah Ada Utusan.
Maknanya:
Setiap orang itu harus merasa bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, yaitu Khalifah Fil Ardhi, menjadi khalifah di muka bumi ini.
Arti dalam Bahasa Jawa adalah data utowo anane bedo-bedo.
Arti bahasa Indonesian adalah Keberadaannya tidak Sama alias beda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain.
Arti dalam Bahasa Jawa adalah Senajan kahanane bedo-bedo nanging podho joyone.
Arti dalam Bahasa Indonesia adalah Meskipun beda keahlian atau pekerjaan namun semua bisa saja berjaya.
Arti bahasa Jawa adalah Monggo Sak Kerso.
Arti dalam Bahasa Indoensia adalah Terserah mana yang akan dilakukan.
Tapi ingat, semua pasti ada resikonya.
Wallahu A’lam.
Anda mungkin juga meminati:
Banyaknya dan Arti Huruf Jawa
Kamus Kecik Narapraja
Arti Kembang Sepasang
Arti Pathet dan Wilet


