Minggu, 15 April 2018

MENGENAL R .M MARGONO DJOJOHADIKUSUMO

Cuaca yang cerah seakan merestui perjalanan napak tilas sejarah pada seorang tokoh besar di dunia perbankan. Meskipun sudah memasuki musim penghujan, tetapi awan mendung belum terlihat menutupi langit. Siang itu. Selasa, (17 November 2015) lalu. Dikomplek pemakaman R. Margono Djojohadikusumo yang dikenal sebagai founding Father Bank BNI 46 di daerah Dawuhan, Banyumas.
Kepada Pamor, dr. Soedarmaji Ketua yayasan Makam Dawuhan, menceritakan riwayat perjalanan R. Margono Djojohadikusumo. Putra daerah yang lahir di Purwokerto, 16 Mei 1894. Beliau merupakan orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang tidak lain adalah ayah dari Prabowo Subianto.
R. Margono masih keturunan dari Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide. Seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro, dan anak dari asisten Wedana Banyumas. Margono kecil bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas. Sebuah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda, dari tahun 1900-1907 kemudian melanjutkan Sekolah Pamong Praja di Jakarta.
Atas mandat Sukarno-Hatta, beliau didampuk menjadi ketua pertama Dewan Pertimbangan Agung.
“Jadi pak Margono bukan ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara yang sering ditulis oleh artikel-artikel yang ada di internet atau buku sejarah. Melainkan Dewan Pertimbangan Agung tanpa kata (sementara), karena pada pengangkatan beliau kondisi sudah merdeka dan pemerintahan sudah terbentuk.” Tegas dr Soedarmaji.
R. Margono memulai langkah pertama sebagai ketua DPA dengan mengusulkan pembentukan Bank Sentral Indonesia untuk mengukuhkan kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sekaligus untuk menyetabilkan perekonomian Indonesia yang pada saat itu masih dalam cengkraman pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank atau yang saat ini berubah menjadi Bank Indonesia (BI).
Atas mandat Soekarno-Hatta akhirnya Bank Sentral (Bank sirkulasi) Negara Indonesia dibentuk pada tanggal 16 September 1945 dan melalui sidang dewan menteri pada 19 September 1945 memutuskan berdirinya Bank Sentral (BNI) sebagai bank sirkulasi melalui perpu nomor 2 tahun 1946 yang dikeluarkan pada 15 Juli 1946. Menunjuk RM. Margono Djojohadikusumo sebagai direktur utama Bank Sentral Negara Indonesia.
Pada perkembangannya Bank Sentral Negara Indonesia diberi kewenangan menerbitkan dan mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk menggantikan uang Hindia Belanda, sebagai alat transaksi yang sah. Untuk mengukuhkan perekonomian Indonesia yang lemah akibat penjajahan Belanda, R. Margono Djojohadikusumo berinisiatif membuat kebijakan penggunaan devisa untuk memperoleh devisa melalui Bank Sirkulasi Negara Indonesia. Ide ini dia kemukakan pada sidang DPR dan disetujui melalui Hak angket DPR pada tahun 1951, hal ini juga menjadi sejarah digunakannya hak angket DPR untuk pertama kalinya.
“Bank  Sentral (Sirkulasi) Negara Indonesia didirikan pertama di Yogyakarta, karena pemerintahan pada waktu itu dipindah disana. Ada opsi untuk didirikan di Purwokerto, tapi karena tidak tersediannya gedung disini akhirnya dipilih didirikan di Yogyakarta.” Jelas dr. Soedarmaji, pemerhati Sejarah yang juga cucu dari dr. Anggoro Kasih yang lebih dikenal dengan sebutan dr. Angka yang merupakan salah satu pendiri Boedi Utomo.
Pada fase setelah agresi militer Belanda kedua, bank mengusulkan penunjukaan De Javasche Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah Belanda sebagai Bank Sentral pada tahun 1949. Pemerintah membatasi peranan Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi atau bank sentral. Bank Negara Indonesia lalu ditetapkan sebagai bank pembangunan, dan kemudian diberikan hak untuk bertindak sebagai bank devisa.//Jarot.

MENGENAL MAKNA SASTRAJENDRA

Kajian Sufistik Menuju Mahabah Tajali
Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Dhiyu
Sesanti ini merupakan sebuah kalimat yang berasal dari bahasa jawa yang berarti sebagai berikut:
Sastra bermakna tulisan
Jendra / Hendra bermakna hati / raja
Hayu bermakna baik / indah
Rat bermakna darah / getih
Pangruwating berasal dari kata ruwat yang bermakna / merawat/ memperbaiki
Dhiyu yang bermakna Buta / raksasa
Dapat disimpulkan bahwa makna dari kalimat tersebut adalah Sebuah tulisan atau pelajaran yang tinggi yang mampu meruwat / memperbaiki darah/ diri manusia menjadi lebih baik.
Kalimat ini merupakan salah satu wulangan tinggi tentang hidup dan pencarian hakikat hidup manusia jawa, manusia Indonesia yang terdapat dalam kisah cerita pewayangan.
Dikisahkan dalam pewayangan, bahwa piwulang / ajaran ini ( ajaran Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Dhiyu ) sangat rahasia dalam pengajarannya, hingga hanya manusia yang diberi piwulang dan yang mengajar saja yang boleh mengetahui. Bahkan ada istilah Suket Godong Ora Kena Krungu ( Rumput dan daun tidak boleh mendengar ).
Dikisahkan, jika tumbuhan dan hewan mendengarkan piwulang ini, maka mereka akan naik derajat kemuliaannya, begitu juga dengan jin, raksasa dan sejenisnya, setelah mendengar piwulang ini mereka akan naik derajatnya menjadi manusia, sedangkan manusia akan naik derajatnya menjadi dewa. Tempat pemberian piwulang ini dikisahkan harus ditempat yang sangat rahasia.
Maksud dari kisah ini adalah bahwa tempat tersebut sebenarnya terdapat dalam diri manusia itu sendiri, dimana jika manusia bisa sampai mendapat piwulang ini maka di akan lebih mulia derajatnya dibanding manusia pada umumnya.
Tulisan atau sastra itu sesungguhnya adalah milik rajanya manusia yakni Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Tuhan telah meniupkan sedikit Ruh Nya kedalam diri manusia itu sendiri. Maka, barang siapa manusia yang bisa sampai pada kesadaran batin terdalamnya yakni Ruhnya, ia akan mendapatkan pencerahan ruhani. Dengan ruhani yang cerah manusia tersebut akan naik derajatnya, sebab untuk mencapai kesadaran Raja / Ruh dalam diri, manusia harus terlebih dahulu mengikis nafsu – nafsu yang menyelimutinya, mulai dari lawamah, amarah, sufiah dan mutmainah.
Proses pencerahan ruhani dalam diri manusia hanya akan diketahui oleh manusia yang mengalaminya itu sendiri, karena itu merupakan pengalaman pribadi spiritual manusia itu sendiri.
Cerahnya ruhani akan membawa rahmat bagi pelakunya, sedangkan rahmat tersebut akan menyelamatkan dirinya. Wujud rahmat tersebut berupa hidayah, untuk menangkap hikmah – hikmah yang terkandung di dalam kehidupan sehari – hari, semua peristiwa yang kita alami akan mampu kita ambil dan selami maksud kandungannya yang kemudian akan menjadikan kita semakin dekat dengan Tuhan, lebih pasrah dan sabar.
Disebutkan, bagi umat Islam, bahwa dalam bulan puasa terdapat suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadar, bagi yang beruntung, mereka akan mendapatkan anugrah dari malam tersebut. Malam yang cerahnya melebihi seribu bintang, karena memang cahaya pencerahan ruhani, cahaya ketuhanan, cahaya yang berasal dari Ruh yang merupakan tiupan sedikit dari Ruh Nya melebihi cerahnya apapun. Cahaya yang bersumber dari Maha Cahaya.
Nafsu-nafsu yang menyelimuti ruhani kita dan harus dikikis itulah yang diibaratkan dengan Dhiyu atau raksasa, yakni keserakahan, ketamakan,kesombongan iri hati, dengki, sahwat yang berlebihan dan lain – lain. Maka untuk mencapai Lailatul Qadar pun manusia diharuskan berpuasa dahulu. Dengan mengurangi makan, maka energi untuk berpikir kepada hal – hal yang berlebihan akan berkurang disebabkan kondisi fisik lemah. Dengan fisik yang lemah, kita akan semakin sabar sebab untuk marah pun kita memerlukan energi yang banyak pula. Puasa bukan hanya mengubah pola makan dan minum yang tadinya pagi dan siang diganti setelah buka / magrib, tetapi juga mengurangi makan. Kondisi seperti itu yang berjalan berhari – hari akan membentuk ruhani kita, sehingga LailatulQadar pun disebutkan akan turun pada sepertiga hari terakhir dalam bulan puasa.
Kisah turunnya Wahyu Al Quran pertama kali pun setelah nabi Muhammad saw bertahalwat / bertirakat di gua Hira selama 40 hari 40 malam, dan bahkan beliau hanya makan beberapa butir kurma dalam setiap buka dan sahur. Betapa bagaimana keadaan fisik beliau pada saat itu.
Iqra adalah membaca. Membaca bukan dalam arti tulisan melainkan membaca hikmah ciptaan Tuhan, sehingga pada awalnya beliau pun mengalami kesulitan, apalagi membaca tentang diri manusia. Sebab manusialah mahluk ciptaan yang memang menjadi khalifah atau wakil Tuhan dalam menjalankan alam semesta ini. Setalah beliau membaca diri manusia barulah ayat terakhir yang turun menganjurkan untuk membaca alam semesta yang merupakan pena Tuhan.
Ruh manusia adalah sebagian kecil Ruh Nya yang ditiupkanNya, yang berarti bahwa manusia mempunyai sifat sifat turunan dari Yang Maha Pemilik Sifat. Oleh karena itu terbukti bahwa manusia lah yang bisa membahas dan mengelola apa saja yang ada di alam semesta ini. Maka tepatlah jika Tuhan melebihkan manusia dari semua ciptaan, dan juga menistakannya daripada dari semua ciptaan yang lain.
Semua ciptaan Tuhan, baik matahari, bulan ,bintang dan yang lainnya, semua yang ada di alam ini merupakan sunatulloh, dimana ciptaan atau mahluk adalah Fayakun Allah dan firmanNya adalan Kun Alloh.
Ilmu apa saja yang ditemukan oleh manusia sudah pasti merupakan hasil pencerahan ruhani penemunya dalam membaca objek yang mereka amati. Pencerahan ruhani tersebut jelas mempengaruhi juga otak, pikiran dan kejiwaan bahkan raga manusia tersebut, sehingga bisa kita amati bagaimana karakter, wajah dan sikap orang – orang yang telah menemukan ilmu tersebut, mereka pasti mempunyai aura sinar wajah, sikap hidup, pemikiran, dan perjalanan hidup yang sangat berbeda dengan manusia kebanyakan, begitu juga benturan – benturan hidupnya.
Tumbuhan merupakan sunatulloh yang apabila manusia bisa membacanya misal dari batangnya, maka manusia tersebut kemudian bisa mengubahnya menjadi kursi , meja dan lain – lain yang sudah barang tentu dengan memunculkan ilmu pertukangan kayu. Daun – daunan pun bisa diubah menjadi obat, racun atau bahkan makanan dengan ilmu tersendiri pula.
Di dalam bumi ini terdapat berbagai bijih logam yang kemudian oleh manusia yang bisa membaca dengan ruhaninya, bahan tersebut diubah menjadi kursi, meja, pisau dan lain – lain yang tentunya juga menggunakan ilmu tersendiri. Semua manusia yang mengupayakan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi lebih baik.
Hayuningrat / Hayuning Diri / Membuat Selamat, Baik Darah Kita, Diri Kita
Kewajiban seorang yang berimanlah untuk Iqra, bukan hanya membaca tulisan dan arti tetapi membaca tentang diri manusia itu sendiri, hakikat manusia dan alam semesta sebagai pena Allah. Barang siapa mensyukuri nikmat Allah maka manusia tersebut akan ditambah nikmatnya dan barang siapa yang mengkufuri maka azab yang sangat pedih akan menimpa.
Manusia dijadikan Tuhan sebagai mahluk yang paling sempurna karena mempunyai kelebihan akal pikiran dan nurani serta Ruhani. Itu merupakan nikmat yang tiada terkira. Salah satu mensyukuri nikmat adalah dengan menggunakan akal dan pikiran kita. Dengan berpikir dan berakal, pengetahuan kita akan bertambah. Dari pengetahuan kemudian menjadi ilmu, berilmu. Itulah nikmat Allah. Orang yang berilmu akan lebih dihargai oleh orang lain.
Orang yang tidak mau menggunakan pikiran dan akalnya akan menjadi bodoh. Taklid buta pun dilarang oleh agama. Orang yang bodoh kurang dihargai dalam kehidupannya dan sering sengsara karena kebodohannya. Itulah azab Tuhan.
Mengapa manusia yang diberi anugrah itu?
Karena manusia yang diberi akal dan pikiran, sehingga ujud seorang Muhammad pun adalah manusia, bukan malaikat.
Kursi Allah ada dalam seluruh alam semesta ini. Ruh kita adalah sedikit Ruh Nya yang ditiupkan, sehingga manusia pun memiliki sifat – sifat yang berasan dari pemberi Ruhnya, meski sedikit. Maka manusia bisa berkuasa, berkehendak, merubah, membunuh dan sebagainya. Semuai itu pun atas izin Nya, tanpa izin Allah maka manusia tak kan mampu apapun… illa Bisulton…
Sulton yang dimaksud adalah kekuatan berupa ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah hasil dari kerja keras akal , pikiran, dan Ruhani manusia. Maka hanya manusia yang masih hidup / ber ruh lah yang bisa melakukan Iqra, maka selagi hiduplah manusia dianjurkan untuk Iqra. Jasad tanpa Ruh bukan lagi manusia, melainkan bangkai…sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut
Marilah, mumpung kita masih menjadi manusia,  mumpung masih ber Ruh, kita Iqra, membaca tentang kehidupan ini agar kita lebih dimuliakan derajatnya di dunia dan di akherat kelak… Amin.
Subhanalloh, wassalamah, warohmah, wabarokah ngalaik.

Sabtu, 10 Juni 2017

SERAT KALATIDA

1.   Mangkya darajating praja
      Kawuryan wus sunyaturi
      Rurah pangrehing ukara
      Karana tanpa palupi
      Atilar silastuti
      Sujana sarjana kelu
      Kalulun kala tida
      Tidhem tandhaning dumadi
     Ardayengrat dene karoban rubeda

MAKNANYA

Keadaan negara waktu sekarang,
 sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah,
 karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

BEDO REJEKINE

Terkadang kita dalam menjalankan usaha DAGANG  dengan sistem ATM 
( Amati Tiru Mainkan )  sadarkah ...apa yang kita tiru dan amati serta menjalankan 
usahanya benar benar sama hasilnya ....?? 

Rupanya ..seorang pujangga sudah jauh jauh dalam kata kata bijaknya 
yang di kenal dengan istilah JAWA : 
                  SANAJAN DODOLANNE PODO 
                  LAKUNE LAN REJEKINE BEDO 
ini yang harus kita sadari betul makna yang sebenarnya 

Senin, 23 Mei 2016

SABDA RAJA NYAYOGYAKARTA

 Keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengeluarkan Sabda Raja dan Dawuh Raja disesalkan kalangan keluarga Kraton Ngayogyakarta.

Cucu dari HB VIII, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jatiningrat yang menjabat sebagai Pengageng Tepas Dworo Puro (semacam Humas) Kraton mengungkap perjanjian Sri Sultan HB X sebelum jumenengan (naik takhta).

Menurut KRT Jatiningrat, ada lima perjanjian Sultan kepada HB IX sesaat sebelum diangkat menjadi Sultan HB X. Adapun Perjanjian tersebut,
 pertama; untuk tidak mempunyai prasangka iri dan dengki pada orang lain.

Kedua; untuk tetap merengkuh orang lain biar pun orang lain tersebut tidak senang.

Ketiga, untuk tidak melanggar paugeran negara;

Keempat; untuk lebih berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Kelima; untuk tidak tidak punya ambisi apapun selain untuk menyejahterakan rakyat.
“Janji ini diucapkan Sultan sebelum jumenengan kepada almarhum HB IX,” kata KRT Jatiningrat.
Ia berharap Sultan tetap berpegang teguh pada paugeran Kraton. Pria yang akrab disapa Romo Tirun ini mengaku tidak paham dengan Sabda Raja yang diucapkan Sultan. 

Ia mengartikan inti dari Sabda Raja itu tidak lain adalah keinginan Sultan mengangkat Gusti Kanjeng Ratu Pembayun menjadi putri mahkota.

Sultan mengeluarkan Sabda Raja pada Kamis (30/4). Inti dari Sabda Raja itu adalah mengubah gelar. Kemudian pada Selasa (5/5) Mei, Sultan mengeluarkan Dawuh Raja yang intinya mengganti gelar putri sulungnya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.

Namun kerabat Kraton tidak sepakat dengan keputusan Sultan tersebut. Bahkan adik-adik Sultan menolak isi dari Sabda Raja tersebut karena menganggap sudah keluar dari Paugeran Kraton.

Keutuhan Keraton

Romo Tirun mengaku perbedaan pandangan antara Sultan dan para pangeran (Adik-adik Sultan) akan mempengaruhi keutuhan Kraton. Namun Romo Tirun merasa tidak berhak mencampuri urusan keluarga besar HB IX.

Romo Tirun berharap, polemik yang terjadi di internal Kraton tidak sampai mengganggu lembaga Kraton. 

Ia mengakui abdi dalem bertanya-tanya soal polemik tersebut, namun ia menekankan abdi dalem harus kembali pada pengabdian untuk lembaga Kraton dan menjaga kebudayaan para leluhur.

“Mohon maaf, abdi dalem bukan pakune Sultan, tapi abdi negara, hanya mengabdi pada lembaga tinggalane leluhur".

Soal perbedaan pandangan di antara Sultan dan para pangeran (Rayi Dalem), Romo Tirun mempersilahkan untuk diselesaikan dengan baik-baik. “Semua punya tanggung jawab dan ada risikonya masing-masing,” ujarnya.

Meski sudah ada perubahan gelar dawi Buwono menjadi Bawono, sampai saat ini semua proses administrasi di Kraton masih menggunakan nama Sri Sultan Hamengku Buwono. (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)

Sabtu, 21 Mei 2016

MAKNA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini." Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?" Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua." Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,: " Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya." Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: " Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang." Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

Ini Lohh.. !! Bukti Yesus itu Bukan Tuhan . Dr. Zakir Naik Membuktikanya...

Tidak Sesuai Akal Sehat.. PENGINJIL Ini PUN BINGUNG MENERANGKAN TRINITAS...

Selasa, 17 Mei 2016

ARTI MAKNA SEMBAYANG DAN SOLAT

PERBEZAAN ANTARA SEMBAHYANG DAN SOLAT

oleh ANITA MORAH ABAS


Topik ini pernah dibincangkan & dibahaskan di peringkat universiti, malah terdapat beberapa blog yg hanya potong & tampal isu sembahyang & solat tanpa membuat penerangan yg lebih jelas. Ia juga telah dibangkitkan dlm beberapa ceramah agama utk memperbetulkan tanggapan umum.  

Memang benar, topik yg dibawa berkisar dari segi permasalahan bahasa yg lebih menjurus kepada pengisian makna antara kedua2 perkataan tersebut.

Kita menyatakan perbezaan pendapat yg sewajarnya dikupas dgn cara berhemah & positif bukan meletakkan posisi kita dalam menghukum.

Jangan kita menganggap dgn membuat penilaian tersendiri maka kita telah menjatuh hukum bahawa perkataan “sembahyang” itu telah menyalahi akidah, tetapi dari segi perbuatan, ia sebenarnya tidak. Lalu, kita mengatakan penggunaan “solat” itu yg sebenar2nya mencerminkan penyerahan diri kita sebagai orang Islam terhadap Allah swt, sedangkan “sembahyang” itu membawa maksud lain, bertentangan dgn maksud “solat”.

Lantaran itu, ada yg menolak bulat2 penggunaan perkataan sembahyang dikatakan tidak tepat utk menggambarkan pengertian ibadah. Jadi di sini terdapat tiga pandangan yg berbeza – sembahyang adalah juga solat; sembahyang sewajarnya digunakan utk yg bukan Islam; solat sewajarnya digunakan utk orang Islam.

Kita jangan cepat menjatuh hukum, tanpa mengkaji sejarah yg mendasari maksud sembahyang & solat. Izinkan saya mengutip kembali penjelasan yg telah saya berikan di dalam posting Ustaz Yaacob Hamad.

Solat adalah kata serapan atau kata pinjaman drp bahasa Arab. Kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Melayu, solat membawa maksud sembahyang. Ringkasnya, solat adalah perkataan yg sama ertinya dgn sembahyang. Makna solat diterangkan dgn jelas dalam Kamus Dewan Edisi Empat/Kamus Pelajar, yg membawa pengertian istilah solat adalah sembahyang bagi umat Islam, manakala istilah sembahyang adalah solat bagi umat Islam dan memohon kepada Tuhan bagi bukan Islam (Kamus Pelajar/kamus Dewan Edisi Empat).

Ini bermakna anak2 kita telah didedahkan dgn maksud solat & sembahyang adalah perkataan yg boleh digunakan utk menggambarkan ibadah kita terhadap Allah swt.

Perkataan sembahyang ini juga boleh kita dapati di dalam terjemahan2 ayat2 Al Quran seperti berikut:

"Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman) maka dirikanlah sembahyang itu (dengan sempurna sebagaimana biasa). Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya" (Surah an-Nisa': 103).

Begitu juga kita hedaklah menyuruh kaum keluarga kita mengerjakan solat seperti Firman Allah dalam surah Toha ayat 132 yang bermaksud:

"Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (bahkan) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan (ingatlah!) kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
Terjemahan dua ayat alQuran di atas dipetik dari laman web Ustaz Nor Amin Sayani bin Zainal. Saya hanya memetik satu sahaja contoh utk dibuat perbandingan. Ringkasnya, perkataan “sembahyang” & “solat” digunakan secara bergandingan di dalam artikel agamanya berjudul Jom Solat (sila layari http://www.ustaznoramin.com/2010/03/jom-kongsi-hikmah-solat-untuk-kebaikan.html).

Perkataan atau istilah “solat” telah menarik perhatian dua tokoh Indonesia iaitu Profesor Hasbi As Siddiqi & Dr Daniel (tokoh bahasa) yg membahaskan dari segi hukum & kepenggunaannya. Kedua2 tokoh ini sependapat bahawa solat adalah lebih sesuai digunakan utk menggambarkan ibadah kita sebagai orang Islam ke hadrat Allah swt.

Bahasan mereka mempunyai asas yg kukuh dgn mengkaji asal usul makna perkataan “sembahyang” yg tidak sesuai digunakan oleh orang Islam bagaimanapun diterima pakai di dalam kamus DBP & perkataan yg membawa maksud sama erti bagi kedua2 makna tersebut terpakai dalam Kamus Pelajar iaitu yg dipakai & dipelajari oleh anak2 kita.

Maksud “sembahyang” menurut Profesor Hasbi As Siddiqi membawa pengertian yg terdapat unsur “syirik”. Ia adalah dua taupan dpd dua kata dasar yg berbeza iaitu “sembah” dan “Hyang”. “Hyang” atau lebih tepat lagi Sang Hyang Widhi adalah nama dewa Hindu agung, Tuhan Yang Maha Esa yg dikaitkan dgn konsep Brahman bagi penganut agama Hindu Bali yg telah wujud & disembah berabad2 lamanya (utk pengetahuan lebih lanjut tentang tuhan Hindu Bali ini sila layari http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Hyang_Widhi).

Yg dimaksudkan “syirik”, ditujukan kpd orang bukan Islam yg menggunakan perkataan sembahyang utk menggambarkan penyembahan mereka kpd tuhan mereka yg amat bertentangan dgn sembahyang & agama kita.

Ringkasnya, tafsiran kedua2 tokoh ini merumuskan bahawa perkataan sembahyang adalah lebih sesuai digunakan utk yg bukan Islam.

Mana datangnya perkataan “sembahyang” yg terpakai di dlm urusan kita sebagai orang Melayu Islam sehari2? Kita harus kembali kpd sejarah asal usul keturunan kita. Perkataan sembahyang muncul lama dahulu di dalam kamus hidup kita yg menjadi pegangan nenek moyang kita sebagai penganut agama Hindu sebelum kedatangan Islam.

Kalau kita buat sedikit penyelidikan, perkataan2 yg kita guna pakai sehari2 adalah campuran daripada beberapa bahasa & dialek seperti bahasa Sanskrit, Inggeris, Jawa, Arab, Belanda, dan beberapa bahasa lain. Perkataan yang diserap itu pula tidak semestinya terikat dengan maksud asal bahasa itu seperti perkataan “sembahyang”. Mungkin pada masa itu, tidak ada perkataan yg lebih sesuai utk menukar perkataan “sembahyang”. Jadi, perkataan “sembahyang” dikekalkan untuk menggambarkan kpd kita sebagai orang Islam, mengikut acuan kefahaman kita, ia adalah perbuatan ibadah kita menghadap Allah swt.

Kalau orang2 bukan Islam melakukan “syirik” dlm sembahyang mereka, janganlah pula menyamakan pengertian “sembahyang” dalam kamus hidup kita yg telah terpakai sekian lama. Dari segi istilah sahaja yg menimbulkan perbezaan pendapat.

Perkataan2 serapan atau dipinjam drp bahasa asing & diterima pakai penggunaannya dlm sesebuah masyarakat berlaku di mana2, termasuklah bahasa Inggeris.

Ada banyak kata serapan dari bahasa Sanskrit yang diterima ke dalam bahasa Melayu dan digunakan secara umum tanpa mengaitkan maksud asal bahasa tersebut. Antaranya perkataan “samudera” (Dewa Laut), “bayu” (Dewa Angin) & “suria” (Dewa Matahari). Kalau tidak silap saya termasuklah perkataan2 neraka, duka nestapa, dosa, pahala dan byk lagi. Serapan perkataan2 ini termasuk perkataan2 lain kenalah merujuk kpd pakar bahasa & DBP.

Berbalik kpd perkataan sembahyang, kalau kita merujuk kepada kamus DBP online perkataan sembayang dan solat adalah perkataan seerti. Kedua2nya adalah terpakai utk merujuk ibadah kita kpd Allah swt.

Bagaimanapun, jika masih lagi sangsi, ajukan keraguan yg timbul ini ke pihak DBP agar DBP dapat memperbetulkan makna “sembahyang” dan “solat” utk mengelakkan kekeliruan di antara pengertian sembahyang & solat & utk membezakan “sembahyang” digunakan utk bukan Islam dan “solat” kpd yg beragama Islam.

Berhati2lah apabila kita mengerah anak utk mengerjakan solat/sembahyang. Dikhuatiri mereka terkeliru dgn penggunaan istilah atau perkataan antara sembahyang dan solat kerana apa yg mereka pelajari di sekolah kedua2 perkataan itu adalah merujuk kepada perkara yg sama, perbuatan ibadah kita ke hadrat Allah taala. Gunakanlah budi bicara sebaik mungkin sebagai penerangan yg boleh mereka terima.

Tetapi janganlah pula kita naik angin atau marah pd orang yg masih menggunakan perkataan “sembahyang” yg dimaksudkan & membawa pengertian yg sama iaitu “solat”. Jelaskan dgn penuh diplomasi, anggaplah penerangan kita kpd yg kurang arif sebagai satu bentuk dakwah…

Persoalan di atas bukan untuk mempertahankan pendapat secara peribadi tetapi hanyalah pernyataan yg zahir daripada perbezaan pandangan yg dibincangkan secara bersama yg lebih menampakkan dari segi pengunaan istilah bahasa Arab & bahasa Melayu.

Ingatlah kita akan pesan Rasulullah, “Sampaikanlah ilmu walapun sebaris ayat.”


Jumat, 29 Januari 2016

Filosofi Semar yang Mengagumkan


Filosofi Semar yang Mengagumkan

Sebagai orang Jawa, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya wayang kulit. Karena wayang kulit ini sangat identik dengan kesenian dari Jawa. Pertunjukan wayang kulit biasanya dimainkan oleh dalang dan seringkali dipentaskan semalam suntuk. Lakon yang dimainkan pun juga bermacam-macam. Umumnya mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana.
Saya pribadi tidak begitu tahu dengan lakon dan tokoh-tokoh yang ada dalam pertunjukan wayang kulit. Kalaupun saya menonton wayang kulit, biasanya saat adegan “goro-goro” saja. Itupun juga terjadi ketika saya masih kecil, saat diajak oleh ayah saya.
Bagi saya adegan “goro-goro” sangat menarik karena banyak sekali pesan moral yang disampaikan oleh sang dalang lewat tokoh wayang yang dimainkan. Tokoh wayang yang selalu dijadikan sebagai sang penyampai pesan itu, tak lain dan tak bukan adalah Semar.
Semar merupakan nama tokoh punakawan atau abdi paling utama dalam pewayangan. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Karena merupakan tokoh asli ciptaan pujangga Jawa, maka tentu saja kita tidak akan menemukan nama Semar dalam naskah asli Mahabharata ataupun Ramayana yang berbahasa Sansekerta.
Dalam lakon wayang kulit sebenarnya ada tokoh punakawan yang lain yang merupakan “anak-anak” dari Semar, yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Menurut salah satu literatur disebutkan bahwa sesungguhnya Gareng, Petruk dan Bagong bukanlah anak kandung Semar. Gareng sebenarnya adalah putra seorang pendeta yang dikutuk dan Semarlah yang telah berhasil membebaskan kutukan itu. Petruk sendiri sebenarnya adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sedangkan Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Namun demikian hanya tokoh Semar saja yang selalu hadir di setiap lakon apapun. Baik itu dalam pewayangan Jawa Tengah, pewayangan Sunda, ataupun pewayangan Jawa Timuran. Sementara ketiga punakawan yang lain belum tentu ada.
Artinya tokoh Semar dianggap sebagai figur sentral dalam setiap pementasan wayang kulit karena merupakan sang penyampai pesan. Tentu saja gaya penyampaian pesan ala Semar tidaklah seserius tokoh wayang yang lain karena pada dasarnya Semar seringkali berbicara sambil bercanda. Nah, disinilah letak menariknya tokoh Semar bagi saya. Serius, tapi juga santai. Dengan cara “sersan” inilah mungkin diharapkan pesan moral lewat tokoh Semar, lebih mudah diterima dan dicerna oleh setiap penikmat pertunjukan wayang kulit.
Dalam kisah Mahabharata, Semar ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh dari para Pandawa yang merupakan keturunan Resi Manumanasa. Sementara dalam kisah Ramayana, Semar juga ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh Sri Rama dan Sugriwa. Sehingga boleh dikata tokoh Semar akan selalu muncul dalam setiap pementasan wayang kulit, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan. Dalam hal ini Semar tidak hanya berperan sebagai abdi atau pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.
Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Semar dikisahkan bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan merupakan penjelmaan dari Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru yang sekaligus juga merupakan raja para dewa. Memang ada beberapa versi tentang asal-usul dari tokoh Semar ini. Namun semua pada dasarnya menyebut bahwa tokoh ini merupakan penjelmaan dari dewa. Semar juga merupakan lurah yang berdomisili di KarangdempelKarang berarti gersang. Sedangkan dempel berarti keteguhan jiwa.
Kalau kita perhatikan, betapa banyak filosofi dari tokoh Semar ini yang sangat mengagumkan. Dalam filosofi Jawa, Semar disebut dengan Badranaya. Berasal dari kata bebadra yang artinya membangun sarana dari dasar dan naya atau nayaka yang berarti utusan. Maksudnya mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia. Secara Javanologi, Semar berarti haseming samar-samar. Sedangkan secara harafiah, Semar berarti sang penuntun makna kehidupan.
Secara fisik, Semar tidak laki-laki dan bukan pula perempuan. Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, yang merupakan simbol dari pria dan wanita. Tangan kanan Semar ke atas, maknanya bahwa sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal. Sedang tangan kirinya ke belakang, bermakna berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik.
Semar berambut “kuncung” seperti anak-anak. Maknanya hendak mengatakan bahwa akuning sang kuncung, yaitu sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan melayani umat tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan perintah Allah. Ketika barjalan, Semar selalu menghadap keatas. Maknanya adalah dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas atau Tuhan Yang Maha Pengasih serta Penyayang umat.
Selain itu Semar juga selalu mengenakan kain jarik motif  Parangkusumorojo, yang merupakan perwujudan Dewonggowantah atau untuk menuntun manusia agar memayuhayuning bawono, yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri fisik Semar yang sangat unik lainnya adalah bentuk tubuhnya yang bulat. Ini merupakan simbol dari bumi atau jagad raya, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar juga tampak selalu tersenyum, tapi matanya sembab. Ini menggambarkan simbol suka dan duka. Wajahnya tampak tua, tapi rambutnya berkuncung seperti anak kecil. Ini merupakan simbol tua dan muda. Ia merupakan penjelmaan dewa, tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Ini merupakan simbol dari atasan dan bawahan.
Bagi saya Semar mempunyai banyak keistimewaan. Selain ciri-ciri fisik, keistimewaan Semar yang lain adalah tentang statusnya. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya disejajarkan dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Menurut versi aslinya, penasehat pihak Pandawa dalam perang Baratayuda adalah Kresna. Akan tetapi dalam pewayangan, penasehat Pandawa menjadi dua yaitu Kresna dan Semar.
Sering dikisahkan bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan kata lain ada saja pejabat keraton yang melakukan tindakan melawan hukum yang merugikan masyarakat.
Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana.  Bisa bergaul dengan siapa saja, baik  dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas  melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.
Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi. Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng). Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.
Semar seolah-olah tidak pernah mengenal kata sedih. Bila berbicaranya selalu spontan, tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur sehingga orang yang sedih menjadi gembira. Orang yang sedang susah bisa tertawa. Itulah sosok Semar yang selalu tumakninah, mengawal kebenaran dan hati nurani para Pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.
Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah, yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar, mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka bisa dipastikan negara yang dipimpinnya akan menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Sekarang coba kita perhatikan para pejabat di negara kita. Apakah mereka sudah benar-benar mengemban amanat rakyat? Apakah mereka berani mempertaruhkan segalanya demi kebenaran? Ah, sepertinya koq masih jauh dari angan-angan ya. Mungkin para pejabat di negara kita ini perlu kali ya belajar dari sosok Semar. Karena dengan memahami falsafah Jawa dan perilaku Semar tadi pasti akan diperoleh banyak manfaat bagi kehidupan di dunia ini. Dan yang pasti jika semua pejabat kita bisa mencontoh sosok Semar, niscaya negara kita akan menjadi negara yang makmur, gemah ripah loh jinawi
http://filsafat.kompasiana.com/2011/08/08/filosofi-semar-yang-mengagumkan-385732.h

Filosofi Semar yang Mengagumkan

Filosofi Semar yang Mengagumkan

Sebagai orang Jawa, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya wayang kulit. Karena wayang kulit ini sangat identik dengan kesenian dari Jawa. Pertunjukan wayang kulit biasanya dimainkan oleh dalang dan seringkali dipentaskan semalam suntuk. Lakon yang dimainkan pun juga bermacam-macam. Umumnya mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana.
Saya pribadi tidak begitu tahu dengan lakon dan tokoh-tokoh yang ada dalam pertunjukan wayang kulit. Kalaupun saya menonton wayang kulit, biasanya saat adegan “goro-goro” saja. Itupun juga terjadi ketika saya masih kecil, saat diajak oleh ayah saya.
Bagi saya adegan “goro-goro” sangat menarik karena banyak sekali pesan moral yang disampaikan oleh sang dalang lewat tokoh wayang yang dimainkan. Tokoh wayang yang selalu dijadikan sebagai sang penyampai pesan itu, tak lain dan tak bukan adalah Semar.
Semar merupakan nama tokoh punakawan atau abdi paling utama dalam pewayangan. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Karena merupakan tokoh asli ciptaan pujangga Jawa, maka tentu saja kita tidak akan menemukan nama Semar dalam naskah asli Mahabharata ataupun Ramayana yang berbahasa Sansekerta.
Dalam lakon wayang kulit sebenarnya ada tokoh punakawan yang lain yang merupakan “anak-anak” dari Semar, yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Menurut salah satu literatur disebutkan bahwa sesungguhnya Gareng, Petruk dan Bagong bukanlah anak kandung Semar. Gareng sebenarnya adalah putra seorang pendeta yang dikutuk dan Semarlah yang telah berhasil membebaskan kutukan itu. Petruk sendiri sebenarnya adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sedangkan Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Namun demikian hanya tokoh Semar saja yang selalu hadir di setiap lakon apapun. Baik itu dalam pewayangan Jawa Tengah, pewayangan Sunda, ataupun pewayangan Jawa Timuran. Sementara ketiga punakawan yang lain belum tentu ada.
Artinya tokoh Semar dianggap sebagai figur sentral dalam setiap pementasan wayang kulit karena merupakan sang penyampai pesan. Tentu saja gaya penyampaian pesan ala Semar tidaklah seserius tokoh wayang yang lain karena pada dasarnya Semar seringkali berbicara sambil bercanda. Nah, disinilah letak menariknya tokoh Semar bagi saya. Serius, tapi juga santai. Dengan cara “sersan” inilah mungkin diharapkan pesan moral lewat tokoh Semar, lebih mudah diterima dan dicerna oleh setiap penikmat pertunjukan wayang kulit.
Dalam kisah Mahabharata, Semar ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh dari para Pandawa yang merupakan keturunan Resi Manumanasa. Sementara dalam kisah Ramayana, Semar juga ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh Sri Rama dan Sugriwa. Sehingga boleh dikata tokoh Semar akan selalu muncul dalam setiap pementasan wayang kulit, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan. Dalam hal ini Semar tidak hanya berperan sebagai abdi atau pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.
Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Semar dikisahkan bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan merupakan penjelmaan dari Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru yang sekaligus juga merupakan raja para dewa. Memang ada beberapa versi tentang asal-usul dari tokoh Semar ini. Namun semua pada dasarnya menyebut bahwa tokoh ini merupakan penjelmaan dari dewa. Semar juga merupakan lurah yang berdomisili di KarangdempelKarang berarti gersang. Sedangkan dempel berarti keteguhan jiwa.
Kalau kita perhatikan, betapa banyak filosofi dari tokoh Semar ini yang sangat mengagumkan. Dalam filosofi Jawa, Semar disebut dengan Badranaya. Berasal dari kata bebadra yang artinya membangun sarana dari dasar dan naya atau nayaka yang berarti utusan. Maksudnya mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia. Secara Javanologi, Semar berarti haseming samar-samar. Sedangkan secara harafiah, Semar berarti sang penuntun makna kehidupan.
Secara fisik, Semar tidak laki-laki dan bukan pula perempuan. Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, yang merupakan simbol dari pria dan wanita. Tangan kanan Semar ke atas, maknanya bahwa sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal. Sedang tangan kirinya ke belakang, bermakna berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik.
Semar berambut “kuncung” seperti anak-anak. Maknanya hendak mengatakan bahwa akuning sang kuncung, yaitu sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan melayani umat tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan perintah Allah. Ketika barjalan, Semar selalu menghadap keatas. Maknanya adalah dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas atau Tuhan Yang Maha Pengasih serta Penyayang umat.
Selain itu Semar juga selalu mengenakan kain jarik motif  Parangkusumorojo, yang merupakan perwujudan Dewonggowantah atau untuk menuntun manusia agar memayuhayuning bawono, yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri fisik Semar yang sangat unik lainnya adalah bentuk tubuhnya yang bulat. Ini merupakan simbol dari bumi atau jagad raya, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar juga tampak selalu tersenyum, tapi matanya sembab. Ini menggambarkan simbol suka dan duka. Wajahnya tampak tua, tapi rambutnya berkuncung seperti anak kecil. Ini merupakan simbol tua dan muda. Ia merupakan penjelmaan dewa, tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Ini merupakan simbol dari atasan dan bawahan.
Bagi saya Semar mempunyai banyak keistimewaan. Selain ciri-ciri fisik, keistimewaan Semar yang lain adalah tentang statusnya. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya disejajarkan dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Menurut versi aslinya, penasehat pihak Pandawa dalam perang Baratayuda adalah Kresna. Akan tetapi dalam pewayangan, penasehat Pandawa menjadi dua yaitu Kresna dan Semar.
Sering dikisahkan bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan kata lain ada saja pejabat keraton yang melakukan tindakan melawan hukum yang merugikan masyarakat.
Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana.  Bisa bergaul dengan siapa saja, baik  dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas  melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.
Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi. Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng). Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.
Semar seolah-olah tidak pernah mengenal kata sedih. Bila berbicaranya selalu spontan, tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur sehingga orang yang sedih menjadi gembira. Orang yang sedang susah bisa tertawa. Itulah sosok Semar yang selalu tumakninah, mengawal kebenaran dan hati nurani para Pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.
Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah, yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar, mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka bisa dipastikan negara yang dipimpinnya akan menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Sekarang coba kita perhatikan para pejabat di negara kita. Apakah mereka sudah benar-benar mengemban amanat rakyat? Apakah mereka berani mempertaruhkan segalanya demi kebenaran? Ah, sepertinya koq masih jauh dari angan-angan ya. Mungkin para pejabat di negara kita ini perlu kali ya belajar dari sosok Semar. Karena dengan memahami falsafah Jawa dan perilaku Semar tadi pasti akan diperoleh banyak manfaat bagi kehidupan di dunia ini. Dan yang pasti jika semua pejabat kita bisa mencontoh sosok Semar, niscaya negara kita akan menjadi negara yang makmur, gemah ripah loh jinawi
http://filsafat.kompasiana.com/2011/08/08/filosofi-semar-yang-mengagumkan-385732.html.

SHARE THIS POST   
- See more at: http://ketikajomblobertasbih.blogspot.co.id/2014/01/filosofi-semar.html#sthash.jISuKbTN.dpuf

Senin, 07 Desember 2015

Hidup Untuk Memberi

Hidup Untuk Memberi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? ?kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau???, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, ?boleh kakak bertanya? ? silahkan kak, kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?, oh? itu bungkusan nasi dan sedikit lauk
... baca selengkapnya di Hidup Untuk Memberi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Rabu, 02 Desember 2015

Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar

Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

KEDAI MINUMAN itu penuh dengan para pengunjung yang ingin menikmati bandrek, pisang rebus dan kacang goreng. Sehabis hujan memang sedap sekali duduk menikmati bandrek hangat sambil mengobrol dan menghisap rokok, (bandrek" minuman manis bercampur jahe, biasanya diminum hangat-hangat).

Tetamu yang ada dalam kedai itu rata-rata bertampang sangar dan kebanyakan membekal golok. Pertanda bahwa mereka adalah orang-orang kasar.

Seorang pemuda muncul di pintu kedai. Pakaiannya basah kuyup. Dia memakai ikat kepala putih dan rambutnya yang gondrong basah acak-acakan.

"Saya mencari Memed Gendut. Apakah orangnya ada di sini?" pemuda itu bertanya.

Orang-orang yang ada di dalam kedai itu berpaling ke pintu. Sesaat mereka memandang si pemuda lalu meneruskan obrolan mereka, menghisap rokok atau meneguk bandrek. Tak ada yang menjawab.Semua seperti tak acuh. Seolah-olah pemuda itu tak ada disana.

Orang yang bertanya garuk-garuk kepalanya. Terdengar suaranya perlahan, tetapi cukup je!as terdengar oleh semua pengunjung kedai ketika dia berkata,"Aku yakin tidak semua orang yang ada di sini bisu. Tapi mengapa
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

SIMBOL TRAH SANPAIDI


 ,Makna HATA CARA KALA : mengandung makna :
HIDUP SUDAH DI ATUR HANYA DENGAN IDE DAN PEMIKIRAN RASA dan SUARA HATI AKAN MELAHIRKAN MAKNA HIDUP  YANG SEBENARNYA  ""



Warna kuning bulat dasar : adalah simbol kesepuhan dan kemakmuran untuk keluarga di manapun berada 
Tujuh Daun Wijaya kusuma  : Sebagai tujuan hidup berkembangnya keluarga /keturunan TRAH SANPAIDI
                                            ; Kembang wijayakusuma merupakan pusaka Cilacap ,kita juga menganggap                                                   bahwa Leluhur kita sebagai Pusaka kita 
Mahkota dihelai daun             : Bahwa kita smua mempunyai garis trah pemimpin / raja 
Bunga Wijaya Kusuma blm Mekar : Generasi penerus trah slalu ada dan siap melahirkan genarasi baru
Huruf jawa  RA   : Rasa / Perasaan ; Suara hati ,pemikir 
                    LA   :Lakuning kehidupan  
Maka  di harapkan bahwa : Trah Sanpaidi Bisa melahirkan seorang pemikir untuk lakuning kehidupan negara
PITA MERAH PUTIH : Selain simbol negara juga sebagai simbol bapak dan ibu yng di harapkan bisa mengibarkan nama harum orang tua , ( MIKUL DUWUR MENDEM JERO ) 

MAKNA HO-NO-CA-RO-KO

 melihatmakno aksoro’;
HA : hurip : hidup
NA : legeno : telanjang
CA : cipta : pemikiran, ide ataupun kreatifitas
RA : rasa : perasaan, qolbu, suara hati atau hati nurani
KA : karya : bekerja atau pekerjaan atau di lahirkan.
Manusia ” dihidupkan ” dalam keadaan telanjang akan tetapi manusia memiliki cipta rasa karsa, otak yang mengkreasi cipta’, hati yang mempunyai fungsi kontrol ( dalam bentuk rasa ) serta raga / tubuh / badan yang bertindak sebagai pelaksana.
DA : dada
TA : tata : atur

WA; Weruh
SA : saka : tiang penyangga

LA : lakuning : ( makna ) kehidupan, urip.
Dengarkanlah suara hati nurani yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga ( saka ) sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
PADHAJAYANYA : sama kuat pada dasarnya / awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama ( kuat ), yaitu potensi melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan.
MA : sukma : ruh, nyawa
GA : raga : badan, jasmani
BA-THA : bathang, mayat
NGA : lunga, pergi
meskipun dengan kehebatan cipta, rasa, karsa, entah kita baik atau jahat akhirnya ruh / nyawa pasti suatu saat akan kembali ke penciptanya; sehinga manusia harus bisa mempersiapkan diri.
Aksara Jawa
1. Ha : Hananira sejatine wahananing Hyang.
Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran.
2. Na : Nadyan ora kasad mata pasti ana.
Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada.
3. Ca : Careming Hyang yekti tan ceta wineca.
Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak (dapat) diuraikan dengan jelas(mempergunakan kata-kata). Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang.
4. Ra : Rasakena rakete lan angganira.
Rasakanlah eratnya dengan badanmu.
5. Ka : Kawruhanan jiwa kongsi kurang weweka.
Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan.
6. Da : Dadi sasar yen sira nora waspada.
Jika tidak waspada (kau) akan menjadi sesat.
7. Ta : Tamatna prabaning Hyang Sing Sasmita.
Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat.
8. Sa : Sasmitane kang kongsi bisa karasa.
Isyarat yang sampai dapat dirasakan.
9. Wa : Waspadalah wewadi kang sira gawa.
Lihatlah dengan seksama (sifat) batin sesungguhnya yang anda bawa.
10. La : Lalekna yen sira tumekeng lalis.
Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian.
11. Pa : Patisasar tan wus manggyapapa.
Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan.
12. Dha : Dhasar beda lan kang wus kalis ing godha.
Pada dasarnya berbeda dengan (orang) yang telah tak terpengaruh oleh godaan.
13. Ja : Jangkane mung jenak jemjeming jiwaraga.
Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa.
14. Ya : Yatnanana liyep luyuting pralaya.
Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian.
15. Nya : Nyata sonya nyenyet lebeting kadonyan.
Nyata (bahwa) sunyi senyap (segala) jejak keduniawian.
16. Ma : Madyen ngalam perantunan aja samara.
Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu.
17. Ga : Gayuhaning tanaliyan jung sarwa arga.
Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”.
18. Ba : Bali murba wisesa ing njero njaba.
Kembali mengatur menguasai (segi) luar dan dalam.
19. Tha : Thukulane widadarja tebah nistha.
Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan.
20. Nga : Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.
Berhati-hati dalam merencanakan pengaturan-mengatur dunia.Uraian mengenai 20 petunjuk “aksara” – dari serat sastra gending; Karya Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma.
1. Bahasa Jawa.
“Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”.
Bahasa Indonesia.
“Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra (syariat) dan bunyi gending (Manipat). Jika telah disepakati (bersama), meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.”
2. Bahasa Jawa
“Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang : Ha na ca ra ka : pituduhipun, dene kang : da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”.
Bahasa Indonesia
“Seperti halnya sastra (aksara jawa) yang dua puluh (adalah) sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh (atau hidup); memberikan (mirit) ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada (kepada Tuhan) yang dipuji”.
3. Bahasa Jawa.
“Wadat jati kang rinasan, ponang: pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang : ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir”
Bahasa Indonesia
“Wadat jati yang dirasakan berupa: pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya (adalah) mendukung dan akhadiyat, sedang: ma ga ba ta nga (berarti) sudah menjadi nyata (keadaan) sir yang sejati?’.
4. Bahasa Jawa.
“Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”.
Bahasa Indonesia.
“Tanda (daripada) Manikmaya (terlihat) juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya (suwung) (yaitu) bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”.
5. Bahasa Jawa.
“Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”.
Bahasa Indonesia.
“Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya (dengan) melebur ke dalam rasa penglihatan, (bersifat) tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”.
6. Bahasa Jawa.
“Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”.
Bahasa Indonesia
“Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan (juga) mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada (ada) terurai dalam kata-kata (yang) menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”..
Arti Ho No Co Ro Ko
Sejatinya, jati diri semua manusia pada dasarnya adalah sama. Ya cuma kelihatannya saja berbeda-beda.
Jati dirinnya manusia tumrap orang Jawa yaitu:
Ho No Co Ro Ko.
Do To So Wo Lo.
Po Dho Jo Yo Nyo.
Mo Go Bo Tho Ngo.
Huruf-huruf jawa yang jumlahnya ada 20 buah huruf itu bukanlah tiada artinya, namun sebaliknya, penuh banyak arti dan makna.
Berikut ini penjelan dan makna huruf Jawa tersebut.
1. Makna Ho No Co Ro Ko.
Arti bahasa Jawa adalah Ono Utusan.
Arti dalam bahasa Indonesia adalah Ada Utusan.
Maknanya:
Setiap orang itu harus merasa bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, yaitu Khalifah Fil Ardhi, menjadi khalifah di muka bumi ini.
2. Makna Do To So Wo Lo.
Arti dalam Bahasa Jawa adalah data utowo anane bedo-bedo.
Arti bahasa Indonesian adalah Keberadaannya tidak Sama alias beda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain.
Dibagi menjadi 2 makna, yaitu:
Orangnya sama tapi Beda datanya.
Misalnya saja kalau orang Jepang dahulu pendek-pendek, sekarang sudah bertubuh tinggi-tinggi, kalau dahulu wanita dalam berdandan memakai sewek atau jarik sekarang sudah memakai celana.
Kemampuannya tidak sama.
3. Makna Po Do Jo Yo Nyo.
Arti dalam Bahasa Jawa adalah Senajan kahanane bedo-bedo nanging podho joyone.
Arti dalam Bahasa Indonesia adalah Meskipun beda keahlian atau pekerjaan namun semua bisa saja berjaya.
4. Makna Mo Go Bo Tho Ngo.
Arti bahasa Jawa adalah Monggo Sak Kerso.
Arti dalam Bahasa Indoensia adalah Terserah mana yang akan dilakukan.
Tapi ingat, semua pasti ada resikonya.
Tuh kan, huruf Jawa yang sering kita dengar itu ternyata sangat identik sekali dengan Al Qur’an atau mungkin kitab suci yang lain.
Wallahu A’lam.
Jadi, jati dirinya orang Jawa harusnya juga sama dengan jati diri negara atau suku lain karena wong sing nitahke yoiku Aloh SWT, dan buku petunjuknya juga sama yoiku Al Qur’an. Kalau masih belum begitu, ya mungkin itu masih dalam proses.
Anda mungkin juga meminati:



Ho No Co Ro Ko
Banyaknya dan Arti Huruf Jawa
Kamus Kecik Narapraja
Arti Kembang Sepasang
Arti Pathet dan Wilet